Selasa, 26 Oktober 2010
Hajatan Besar Geologi & Vulkanologi di penghujung 2010 (Oktober-November)
Rabu, 06 Oktober 2010
Meteor Jatuh di Karanganyar Jawa Tengah
Benda langit seukuran batu yang diduga meteor menimpa rumah seorang warga di RT 7/3, Kelurahan Ngringo, Kecamatan Palur, Kabupaten Karanganyar dini hari kemarin.
Akibatnya, atap rumah milik pasangan Suryono dan Sulistiowati tersebut, berlubang di enam titik. Tak hanya itu, benda yang sempat mengakibatkan kobaran api tersebut juga membuat bagian dapur rumah berantakan.
Kamis, 30 September 2010
Pulau Jawa dan Sumatera Terancam Gempa (Pasca Gempa Papua 30 September 2010)
Hari ini persis satu tahun pasca gempa dahsyat berkekuatan 7,6 skala richter (SR) mengguncang Padang, Sumatera Barat. Dini hari tadi juga terjadi gempa berkekuatan 7,4 SR di Kaimana, Papua Barat.
Gempa yang terjadi semalam di Papua Barat mengindikasikan adanya pergerakan gempa dari kawasan Indonesia Timur menuju Jawa dan Sumatera.
Rabu, 29 September 2010
Asteroid Berbahaya Dekati Bumi Oktober 2010
Sebuah asteroid yang berpotensi bahaya akan melintas bumi dalam satu bulan ke depan. Asteroid ini diberi nama ST3 2010.Asteroid itu memiliki diameter 150 meter dan akan melintas bumi empat juta mil (6.437.376 km) pada Oktober.
Senin, 30 Agustus 2010
Bumi Mempersembahkan Bencana Sebagai Sebuah Drama Geologi
Minggu, 29 Agustus 2010
Mengenang 117 Tahun Letusan Krakatau (27 Agustus 1883)
Bekas pelampung (buoy) ini terbawa gelombang Tsunami akibat letusan gunung Krakatau lama pada Agustus 1883. Tingginya sekitar 1,5 meter dengan diameter berkisar 2m. Sebelum disemayamkan di tempatnya sekarang yaitu taman Dipangga (Dipangga's Park) lampu ini pernah berpindah tempat.
Minggu, 22 Agustus 2010
Gempa Besar September 2010 Akankah Merambat Ke Indonesia?
Desas-desus isu akan datangnya gempa besar di California Amerika Serikat telah berkembang setahun lalu di dunia maya. Banyak dari “mereka” mengemukakan perkiraan dengan berbagai landasan yang kurang ilmiah. Melalui website/blog hingga video yang diupload pada youtube seakan-akan mencoba menghadirkan intuisi mereka bahwa gempa besar tersebut benar-benar akan terjadi pada September 2010 nanti. Benarkah demikian? Bagaimanakah pernyataan dari para pakar gempa?
Selasa, 17 Agustus 2010
Badai Meteor Sambangi Bumi 8 Oktober 2011
Peringatan akan datangnya badai meteor dikeluarkan NASA sejak 17 Juni 2010 lalu. Badai meteor ini disinyalir sebagai badai meteor terkuat dalam lebih dari satu dekade terakhir. Para ahli astronomi telah memperhitungkan bahwa badai meteor secara sporadis akan menghujani dari luar angkasa selama 7 jam, yang diperkirakan akan terjadi pada 8 Oktober 2011.
Selasa, 10 Agustus 2010
Puncak Hujan Meteor Perseid 12-13 Agustus 2010
Hujan meteor Perseid adalah fenomena alam yang yang dapat terlihat oleh mata sebagai kilatan cahaya di langit akibat adanya debu sisa komet yang bergesekan dengan lapisan atmosfer bumi. Hujan meteor ini terjadi dimulai dari pertengahan Juli, dan mencapai puncaknya pada tanggal 12-14 Agustus.
Nama Perseids berasal dari nama Rasi Bintang Perseus karena hujan meteor ini seolah-olah berasal dari arah Rasi Bintang Perseus. Kecepatan meteor tersebut kira-kira 60 kilometer per detik, dan memiliki kilatan meteor yang terang dengan cahaya yang panjang.
Sabtu, 07 Agustus 2010
Rumahku 6 Kali Tertimpa Meteor
Minggu, 16 Mei 2010
Foto "Bumi Menangis"

Pada awalnya, sekilas gletser itu seperti gletser lain di Kutub Utara Norwegia yang beku. Namun dalam pengamatan lebih dekat, sebuah wajah pedih terlukis pada dinding es yang meleleh, yang tampak tengah menangis dan mengalirkan sungai air mata.
Citra "Ibu Bumi' yang sedang sedih terlihat oleh penduduk setempat selama proses pencairan, dengan es yang meleleh dan salju jatuh ke laut di bawahnya.
Kamis, 06 Mei 2010
Meteorit

Rabu, 14 April 2010
Geliat di Bawah Taman Nasional Yellowstone
Agustus 1870, seorang letnan Angkatan Darat berusia 30 tahun Gustavus Doane, anggota ekspedisi penjelajahan kawasan Yellowstone di wilayah teritori Wyoming, dengan susah-payah mendaki ke puncak Gunung Washburn di atas Sungai Yellowstone. Sambil memandang ke selatan, dia menyadari ada sesuatu yang hilang dari bentang Pegunungan Rocky, yaitu pegunungan. Dalam rentang berkilo-kilometer, satu-satunya ketinggian hanya ada di kejauhan, mengurung lembah berhutan yang amat luas. Bagi Doane, hanya ada satu cara untuk menjelaskan mengapa tak ada pegunungan di Pegunungan Rocky. “Lembah besar itu,” begitu tulisnya, “dulunya adalah kawah besar gunung api yang sekarang sudah tak ada lagi.”Si letnan memang benar. Yellowstone adalah sebuah gunung api dan bukan cuma gunung api biasa. Taman nasional tertua dan paling terkenal di Amerika Serikat itu tepat berada di puncak salah satu gunung api terbesar di Bumi. Bagaimanapun, Doane keliru dalam satu aspek penting. Gunung api Yellowstone masih ada. Sampai taraf tertentu yang belum pasti, gunung api itu masih sangat aktif.
Minggu, 11 April 2010
AWAN GEMPA SEBAGAI SEBUAH MISTERI

Seorang ilmuwan India, Varahamihira (505 - 587) dalam bab 32 dari karyanya Brihat Samhita membahas beberapa tanda-tanda peringantan akan adanya gempa bumi, misalnya: kelakuan binatang-binatang yang tidak seperti biasanya, pengaruh astrologi, pergerakan air bawah tanah dan formasi awan yang aneh, yang muncul seminggu sebelum terjadinya gempa bumi.
Sejak tahun 1990, seorang pensiunan ahli kimia di Kalifornia, Zhonghao Shou, telah membuat lusinan prakiraan gempa bumi berdasarkan pola-pola awan hasil pencitraan oleh satelit. Tekanan dan gesekan dari tanah dapat menguapkan air jauh sebelum gempa bumi terjadi, pendapat Shou, dan awan yang terbentuk akibat mekanisme ini memiliki bentuk yang amat berbeda dengan awan-awan pada umumnya. Shou mengungkapkan, dari 36 awan yang diteliti, 29 terbukti menjadi awal pertanda gempa. Prediksinya yang paling terkenal adalah ketika dia mengamati awan berbentuk garis memanjang dengan ekor mengarah ke Barat Laut.
Sebagai teori alternatif, didukung oleh para penganut model Listrik Semesta (Electric Universe), menyatakan bahwa beberapa gempa bumi kemungkinan memiliki karakteristik listrik, termasuk di dalamnya fenomena aural, radio dan gangguan VLF (Very Low Frequency).
Beberapa gempa yang terjadi antara tahun 1993 sampai 2006 dikaitkan dengan munculnya formasi awan ini sebagai tanda-tanda.Di Jepang tepatnya di Kobe, delapan hari sebelum terjadi gempa dahsyat pada tahun 1995, ditandai dengan kemunculan awan seperti itu. Awan serupa juga muncul sehari sebelum terjadinya gempa di Kagoshima tahun 1993. Bahkan gempa diNiigata tahun 2004 terjadi cuma empat jam setelah kemunculan awan aneh seperti itu. Hal yang sama juga terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006, awan seperti itu muncul pada tanggal 3 Mei 2006 tepat beberapa minggu sebelum gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada tangal 27 Mei 2006.
China bahkan sudah membicarakan tanda alam tersebut tahun 1622, tepatnya 25 Oktober, di mana terjadi gempa besar 7 skala Richter di Guyuan, Provinsi Ningxia, China barat. Masyarakat China barat saat itu melihat ada awan aneh sebelum gempa, Tahun 1978, sehari sebelum gempa Kanto di Jepang, Wali Kota Kyoto Kagida melihat awan aneh. Ia mengaitkan gempa dengan awan tersebut. Fenomena itu lalu disebut Kagida Cloud atau Awan Kagida, yang memperkirakan sumber gempa di titik paling tengah awan gempa. Namun, tahun 1985 pendapatnya dibantah. Sumber gempa diduga di titik terus terjadinya pembentukan awan. Satelit IndoEx memperlihatkan rekaman-rekaman fenomena gempa diiringi awan. Pada 20 Desember 2003, langit sekitar Bam, Iran, muncul awan memanjang. Empat hari kemudian terjadi gempa 6,8 SR. Pada 17 Januari 1994 muncul awan seperti asap roket di sekitar Northride, Amerika Serikat. Sehari kemudian terjadi gempa. Pada 13 Februari 1994 muncul awan berbentuk gelombang di Northride dan 20 Maret 1994 ada gempa besar. Pada 31 Agustus 1994 ada awan bentuk bulu ayam di Northern California, Amerika Serikat. Pada 1 September 1994 terjadi gempa di daerah itu. Awan seperti sinar terjadi di kawasan Joshua Tree, Amerika Serikat, 22 Juli 1996, dan 23 hari kemudian terjadi gempa.
Fenomena alam ini walaupun telah diamati oleh berbagai ahli akan tetapi belum dapat diterima secara ilmiah karena kurangnya aspek-aspek fisik yang mendukungnya. Banyak pakar belum dapat memastikan dan meyakini bahwa fenomena awan gempa tersebut dapat dimasukan sebagai cabang baru yang dapat dikembangkan dan di terapkan dalam ilmu pengetahuan, karena fenomena tersebut selama ini dianggap tidak dapat dijelaskan secara sistematis dan banyak pula yang menganggap semua itu hanyalah suatu kebetulan saja.
Terlepas dari berbagai sumber dan kontroversi yang ada, dari sebuah buku ensiklopedia sains yang pernah saya baca pasca gempa Yogyakarta 2006 terkait kemunculan awan gempa menyebutkan bahwa fenomena tersebut sangat dimungkinkan karena adanya rekahan pada lempeng bumi, sehingga menyebabkan adanya pelepasan energi (rock magnetism) yang terpancar keluar sehingga memungkinkan dapat tercitra sebagai sebuah “cahaya” di langit seperti halnya aurora. Pengaruh energi magnet yang ditimbulkan dari batuan yang ada di dalam bumi, selanjutnya akan berpengaruh terhadap berbagai fenomena yang ada di bumi seperti halnya pembentukan awan di sepanjang rekahan yang terbentuk hingga perilaku hewan yang gelisah akibat pancaran energi magnet yang timbul.
Berikut berbagai foto yang diambil dari beberapa sumber :
Awan Gempa Manado


Rabu, 10 Maret 2010
Keajaiban "Sungai di Bawah Laut"
Jika anda termasuk orang yang gemar menonton tayangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang oceanografer handal dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut.


Sungai di dalam laut. Secara ilmiah itu tidak mungkin terjadi. Adalah seorang penyelam “Anatoly Beloshchin” mengambil gambar 'sungai di dalam laut' dari kedalaman 60 meter perairan Cenote Angelita, Mexico.
Seperti dilansir crystalkiss.com, di kedalaman lebih dari 30 meter tim penyelam menemukan air tawar di tengah kolom air laut. Kondisi itu berubah dan penyelam kembali menemukan air laut mulai melewati kedalaman 60 meter.

Ternyata lokasi itu bukanlah sungai seperti yang terlihat di daratan. Tetapi, suasana itu memang mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan.



"Di kedalaman 60 meter saya menemukan kembali air laut. Saya melihat sebuah sungai, pulau, lengkap dengan daun yang berguguran. Tapi sungai yang kami lihat adalah lapisan dari gas hidrogen sulfida," kata Anatoly.
Fenomena 'sungai' di dalam laut Mexico dikhawatirkan bisa membahayakan biota laut. Meski masih dalam penelitian, gas hidrogen sulfida (H2S) di 'sungai jadi-jadian' itu tidak membahayakan manusia."H2S itu bersifat asam, apabila bercampur dengan air laut atau garam yang terkandung dalam air laut, maka gas itu bisa berbahaya bagi biota laut, namun tidak berbahya bagi manusia," kata Menristek Suharna Surapranata kepada VIVAnews.
Hal itu disampaikan Suharna Surapranata dalam pembukaan di The 4th GEOSS Asia – Pacific Symposium, Denpasar, Bali, Rabu 10 Maret 2010.
Kendati demikian, Suharna mengakui fenomena alam itu merupakan bagian dari vulkanologi atau studi tentang gunung berapi, lava, magma dan fenomena geologi yang berhubungan.
"Di Indonesia memang belum pernah terjadi, namun sangat mungkin fenomena itu terjadi karena hal itu merupakan fenomena alam, dan sejauh ini penelitian tentang sungai bawah laut belum selesai, dan masih melakukan pemetaan tematik," jelasnya.
Minggu, 18 Oktober 2009
WASPADALAH.....
TAHUKAH KITA KALO ADA KAITAN ANTARA KEJADIAN ASTRONOMIS BENDA-BENDA LANGIT TERHADAP IKLIM, CUACA JUGA GEMPA BUMI ???
Setelah posting sebelumnya tentang ramalan gempa besar di Sumatra oleh Jucelino Nobrega terbukti, meski meleset lebih awal namun adanya potensi terhadap bahaya gempa senantiasa ada di tahun 2009.
Beberapa kejadian alam yang terjadi di bumi sangat berkaitan dengan dinamika astronomis yang terjadi di luar bumi. Berikut adalah rangkaian dinamika alam selama tahun 2009.
Pengaruh Gerak Bulan dalam Kejadian Alam di Bumi
ini beberapa istilah yang akan muncul dalam tulisan ini.
Waktu dalam WIB, jarak perigee dalam km (dari pusat Bumi ke pusat Bulan), GMC = Gerhana Matahari Cincin, GMT = Gerhana Matahari Total, GBS = Gerhana Bulan Sebagian, Subsolar = proyeksi pusat Matahari di permukaan Bumi pada waktu yang diberikan, Sublunar = proyeksi pusat Bulan di permukaan Bumi pada waktu yang diberikan.
Perbandingan tarikan gravitasi Bulan dengan Matahari di permukaan Bumi = 2,2 banding 1.
Penjelasan :
1. Konjungsi
- Secara astronomis adalah kondisi dimana pusat cakram Matahari dan pusat cakram Bulan terletak pada garis bujur ekliptika yang sama.
- Secara visual nampak sebagai kondisi dimana Bulan berdekatan/berimpit dengan Matahari, dengan jarak pisah (elongasi) hanya 0 – 5°.
- Dikenal sebagai Bulan baru atau Bulan mati.
- Jika jarak pisah Bulan – Matahari pada saat konjungsi £ 1°, maka akan terjadi fenomena Gerhana Matahari atau konjungsi yang bisa dilihat.
- Terdapat tiga tipe Gerhana Matahari, yakni :
Gerhana Matahari Total à cakram Bulan tepat berimpit dengan cakram Matahari sehingga fotosfera Matahari tertutupi sepenuhnya, membuat kromosfera dan korona Matahari terlihat.
Gerhana Matahari Cincin à cakram Bulan tepat berimpit dengan cakram Matahari namun fotosfera Matahari tidak tertutupi sepenuhnya, sehingga sebagian kecil fotosfera Matahari masih bisa dilihat dengan kenampakan sebagai cincin cahaya.
Gerhana Matahari Sebagian (Parsial) Ã cakram Bulan hanya menutupi sebagian cakram Matahari sehingga Matahari terlihat 'robek'.
- Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 bisa disaksikan di Indonesia, tepatnya dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara di sore hari. Bayangan umbra hanya melintasi Sumatra Selatan – Selat Sunda di sisi barat daya hingga ke Kalimantan Timur di sisi timur laut, sementara daerah – daerah yang lain diliputi bayangan penumbra sehingga hanya menyaksikan Matahari mengalami gerhana sebagian.
Simulasi kenampakan Matahari dan Bulan dalam Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 pada pukul 16:40 WIB dilihat dari kota Kebumen, Jawa Tengah.
- Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 bisa disaksikan di Indonesia tepatnya dari sebagian pulau Sumatra, sebagian pulau Kalimantan, sebagian pulau Sulawesi, sebagian kepulauan Maluku dan seluruh pulau Irian pada pagi hari. Namun daerah – daerah tersebut hanya dilintasi bayangan penumbra sehingga hanya menyaksikan Matahari mengalami gerhana sebagian.
- Pada saat konjungsi, resultan gaya pasang surut yang diterima Bumi (khususnya di sekitar titik subsolar) adalah 3,2 kali lipat gaya pasang surut Matahari.
2. Oposisi
- Secara astronomis adalah kondisi dimana koordinat bujur ekliptika pusat cakram Matahari dan pusat cakram Bulan berselisih 180°.
- Secara visual nampak sebagai kondisi dimana Bulan memiliki jarak pisah (elongasi) 175 – 180° terhadap Matahari.
- Dikenal sebagai Bulan purnama.
- Jika jarak pisah Bulan – Matahari pada saat oposisi ³ 179°, maka akan terjadi fenomena Gerhana Bulan atau oposisi yang tidak bisa dilihat.
Simulasi kenampakan Bulan pada Gerhana Bulan Sebagian 9 Februari 2009 pada pukul 21:40 WIB dilihat dari kota Kebumen, Jawa Tengah. ^_^
- Terdapat tiga tipe Gerhana Bulan, yakni :
- Gerhana Bulan Total à cakram Bulan tertutupi sepenuhnya oleh bayangan umbra Bumi, sehingga Bulan tidak kelihatan sama sekali pada saat purnama.
- Gerhana Bulan Sebagian à cakram Bulan tertutupi sebagian oleh bayangan umbra Bumi, sehingga sebagian kecil permukaan Bulan masih bisa dilihat dengan kenampakan 'robek' dengan cahaya yang redup.
- Gerhana Bulan Penumbral à bayangan umbra sama sekali tidak menutupi cakram Bulan, namun bayangan penumbra menutupi sepenuhnya sehingga Bulan purnama masih terlihat jelas, namun lebih redup.
- Gerhana Bulan Sebagian 9 Februari 2009 bisa disaksikan di seluruh Indonesia, dalam 2 – 3 jam setelah terbenamnya Matahari.
- Gerhana Bulan Sebagian 7 Juli 2009 dan 6 Agustus 2009 tidak bisa disaksikan dari Indonesia.
- Ø Pada saat oposisi, resultan gaya pasang surut yang diterima Bumi (khususnya di sekitar titik sublunar) adalah 1,2 kali lipat gaya pasang surut Matahari.
3. Perigee
- Adalah kondisi dimana Bulan memiliki jarak paling dekat dengan Bumi.
SLOT WAKTU YANG HARUS DIANTISIPASI (BERPOTENSI TERJADI BANJIR, ROB ATAU GEMPA)
- 10 – 11 Januari → terjadi oposisi dan perigee Bulan.
- 26 Januari → terjadi konjungsi dan ada kemungkinan bertepatan dengan siklus MJO (Madden – Julian Oscillation) .
- 8 – 9 Februari → terjadi oposisi dan perigee Bulan.
- 25 Februari à terjadi konjungsi.
- 7 – 11 Maret → terjadi oposisi dan perigee Bulan dan ada kemungkinan bertepatan dengan siklus MJO (Madden – Julian Oscillation) .
- 26 Maret → terjadi konjungsi
- 2 – 9 April → terjadi oposisi dan perigee Bulan
- 25 – 28 April → terjadi konjungsi dan perigee Bulan ada kemungkinan bertepatan dengan siklus MJO (Madden – Julian Oscillation) .
- 9 Mei → terjadi oposisi dan perigee Bulan (mulai Mei, harus diperhatikan juga kemungkinan munculnya anomali cuaca lain berupa Indian Ocean Dipole Mode/IODM negatif ataupun La Nina yang akan mendatangkan tambahan curah hujan di Indonesia khususnya di utara ekuator)
- 24 – 26 Mei → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 8 Juni → terjadi oposisi Bulan
- 23 Juni → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 7 Juli → terjadi oposisi Bulan
- 22 Juli → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 6 Agustus→ terjadi oposisi Bulan
- 19 – 20 Agustus → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 4 September → terjadi oposisi Bulan (perlu diperhatikan pengaruh Indian Ocean Dipole Mode/IODM negatif ataupun La Nina yang akan mendatangkan tambahan curah hujan di Indonesia khususnya di selatan ekuator, dan siklus MJO mulai aktif kembali)
- 16 – 19 September → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 4 Oktober → terjadi oposisi Bulan
- 13 – 18 Oktober → terjadi konjungsi dan perigee Bulan
- 3 – 7 November→ terjadi oposisi dan perigee Bulan
- 17 November→ terjadi konjungsi Bulan
- 2 – 4 Desember → terjadi oposisi dan perigee Bulan
- 16 Desember → terjadi konjungsi Bulan
Selain untuk kebutuhan meramal banjir rob tentunya masih ingat bahwa peredaran bulan serta matahari juga bisa memicu gempa. Harus diingat ya, prakiraan dan perhitungan ini bukan ramalan menakut-nakuti, tapi ramalan untuk jaga-jaga saja.
Secara astronomis, konjungsi Bulan - Matahari akan terjadi pada 26 Januari 2009 pukul 14:56 WIB ditandai dengan terjadinya Gerhana Matahari Cincin yang bisa diamati di Selat Sunda. Ketika terjadikonjungsi, ini akan diikuti dengan pasang naik tertinggi yang sangat berpotensi menghasilkan banjir pasang (rob) di daerah2 yang elevasinya lebih rendah dari permukaan laut.
Secara astronomis pula, data empiris menunjukkan ketika posisi Matahari ada pada deklinasi minus 18 - 15 derajat terjadi curah hujan di atas normal khususnya di Pantura Jawa, lebih khusus lagi di DKI Jakarta.
MJO yang mengenai Amerika berasal dari kawasan Indonesia. (Sumber: Wikipedia)
Sementara secara meteorologis, LAPAN menyebut siklus MJO (Madden-Julian Oscillation) telah terjadi di Indonesia pada minggu pertama-kedua Desember 2008. (BMG kok gak ada kabarnya nih piye???)
Dengan periode siklus 30 - 60 hari, dimana kita ambil nilai tengahnya 40-an hari, maka siklus MJO ini akan kembali ke Indonesia pada minggu terakhir Januari - minggu pertama Februari 2009. MJO membawa banyak awan hujan sehingga menghasilkan peningkatan curah hujan.
So, pada minggu terakhir Januari 2009, ada tiga unsur yang berkoalisi. Kita punya konjungsi yang menaikkan permukaan laut. Kita juga punya data empiris posisi Matahari yang meningkatkan curah hujan. Kita juga punya siklus MJO yang juga mendatangkan peningkatan curah hujan. Curah hujan meningkat membuat genangan di berbagai daerah yang aliran run off-nya cukup besar. Meningkatnya hujan juga akan membuat permukaan laut naik dan pada gilirannya menenggelamkan daerah pantai.
Kalo pengaruh terhadap kegempaan, silakan simak di sini yah :
SETAHU SAYA....SEBENARNYA BULAN TIDAK BISA DIKATAKAN SEBAGAI PEMICU GEMPA BUMI..NAMUN HANYA TRIGGER/BERPENGARUH PADA WAKTU TERLEPASNYA ENERGI YANG MEMICU GEMPA BUMI
PENJELASANNYA KAYA BEGINI...BISA DI GOOGLING KOK ...
Gempa bisa juga mirip seperti itu ada penumpukan tenaga yang apabila melampaui batas kemampuan penahannya maka energi yang sangat besar itu terlepaskan. Mirip dengan pemicu dalam sebuah senapan, maka ketika penumpukan tenaga itu melampaui titik kritisnya terjadilah pelepasan tenaga.
Kalau digambarkan secara mudah maka ketika kekuatan maksimum dilampaui oleh penahan, terlepaslah tenaga yang terkumpul. Jadi ada dua mekanisme, yaitu mekanisme pengumpulan dan mekanisme pelepasan. Seperti prinsip kerja pada sebuah pistol. Kedua mekanisme ini tidak begitu saja terpisah tentunya.
Memang betul kekuatan penahan itu ada batasnya. Namun selain ada batasnya juga memiliki rentang variasi. Variasi ini sangat kecil tentu saja. Dan salah satunya adalah gaya gravitasi.
Kita tahu bahwa gravitasi di bumi sangat dipengaruhi oleh peredaran benda langit, salah satu diantaranya adalah bulan. Bulan merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya beban.
Secara grafis dapat digambarkan seeperti di sebelah ini. Pada saat penumpukan tenaga, maka pegas tertahan oleh gerigi-gerigi yang berfungsiu sebagai penahan. Pada saat kondisi tanpa adanya pengaruh dari luar tentusaja pegas akan tertahan oleh beban massa batuan diatasnya. Namun ketika ada benda lain yang memiliki gaya gravitasi, dalam hal ini bulan. Maka massa tersebut akan sedikit berkurang sehingga pelepasan tenaga tejadi. Dengan demikian fungsi bulan, bukanlan sebagai pengatur besar kecilnya tenaga yang terkumpul, namun bulan hanya mempengaruhi fungsi trigger dari terlepasnya energi.
Bandingkan dengan mekanisme terbentuknya gempa dan tsunami disebelahnya ini. Yang digambarkan secara grafis itu hanya mewakili ujung ditempat dimana getaran atau dislokasi itu akan terjadi
PENJELASAN INI BERHUBUNGAN DENGAN TEORI VORTEX TECTONIC :
"Vortex tectonics" (Mandeville, 2001) berteori bahwa gravitasi Bulan dan Matahari telah mempengaruhi gerak poros Bumi ketika Bumi berputar. Karena Bumi berputar secara miring, maka porosnya pun membuat gerak berputar sedemikian rupa sehingga sedikit terhuyung (wobbles). Milutin Milankovich, ahli matematika dan meteorologi Serbia telah mengetahui ini dan telah membuat siklus periode gerak huyungan Bumi ini pada tahun 1920-an. Kini, gerak terhuyung ini diaplikasikan ke fenomena gerak kerak Bumi dan atmosfer di atasnya.
Memang benar bumi ini tidak bulet-let tetapi mirip seperti gasing. Ya, tentunya tau gasing kan ? Waktu kecil pasti kalau anak laki-laki suka sekali main gasing. Nah sumbu bumi ini juga terhuyung-huyung persis seperti gasing. Sambil terhuyung-huyung ber-rotasi, bumi ini juga berputar ber-revolusi memutari matahari.
INI TENTANG ISTILAH2 KE-BULAN-AN. ..SIAPA TAHU ADA YANG KEDATANGAN BULAN HEHEHE...\
1. Konjungsi
Peristiwa dimana Matahari dan Bulan nampak berimpit bila dilihat dari Bumi. Saat konjungsi sudut fase Bulan tepat 180o dengan elongasi Bulan–Matahari (dilihat dari Bumi) bernilai kecil (dibawah 5o). Jika elongasi Bulan–Matahari sangat dekat dengan terjadilah Gerhana Matahari. Gerhana Matahari 7 Februari 2008 adalah gerhana cincin (anular), yang hanya bisa disaksikan di Australia Selatan, Selandia Baru dan Antartika. Gerhana Matahari 1 Agustus 2008 juga gerhana cincin, yang bisa disaksikan dari Greenland hingga ke Cina.
2. Oposisi
Peristiwa dimana Matahari dan Bulan nampak saling bertolak belakang jika dilihat dari Bumi. Saat oposisi sudut fase Bulan tepat 0o dengan elongasi Bulan–Matahari (dilihat dari Bumi) mendekati 180 deg. Jika elongasi Bulan–Matahari sangat dekat dengan 180 derajat, terjadi Gerhana Bulan. Gerhana Bulan 21 Februari 2008 bisa disaksikan dari Amerika, Eropa Barat dan sebagian besar Afrika. Sementara Gerhana Bulan 17 Agustus 2008 bisa disaksikan dari seluruh Afrika, Eropa dan Sebagian Asia (termasuk Indonesia barat dan tengah).
3. Perigee
Saat dimana Bulan memiliki jarak (dari pusat ke pusat) terdekat dengan Bumi.
Saat perigee ini merupakan saat dimana efek grafitasi bulan akan paling dirasakan di bumi. Tentunya masih ingat kalau besarnya grafitasi itu berbanding terbalik dengan jarak. Semakin kecil jaraknya (dekat), maka semakin besar efek grafitasinya.



















